Social Icons

Pages

Senin, 03 September 2012

Mengenal Lebih Dekat Ki Manteb


Oleh, Rini Dwi Rahayu, Mahasiswa Sastra Jawa UI 
 
Mengenal Ki Manteb Sudharsono

Sosok Ki Manteb Sudharsono
Siapa yang tak mengenal Ki Manteb Sudharsono, dalang wayang kulit yang satu ini mendapat julukan dalang setan. Julukan itu diberikan karena kehebatannya dalam memainkan para tokoh wayang (sabetan). Ki Manteb Sudarsono memang memiliki darah seni dan bakat du dunia pedalangan. Pria kelahiran Selasa Legi, 31 Agustus 1948 di Dukuh Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamantan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah ini dibesarkan di tengah keluarga dalang.

 Kakeknya yang bernama Dalang Tus adalah seorang dalang kondang, dan ayahnya, Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo juga seorang dalang yang pada masa kejayaannya cukup disegani, sedangkan ibunya adalah pesinden dan pengrawit yang berpengalaman. Sejak kecil Ki Manteb Soedharsono sangat rajin dan tekun mengikuti pementasan orang tuanya. Pengalaman masa kecilnya akrab dengan seluk-beluk dunia pewayangan telah membentuk pribadi Ki Manteb kaya akan memori dunia pertunjukan wayang kulit. Kedisiplinan sang ayah dalam mendidiknya, menjadikan kemampuan dan keterampilan Ki Manteb kecil terus berkembang. Selain mendalang, Ki Manteb juga trampil dalam memainkan instrumen gamelan dan bahkan menatah wayang kulit.

Dalam meningkatkan ketrampilannya, Ki Manteb banyak belajar kepada para dalang senior. Ia belajar dari dalang legendaris Ki Narto Sabdo yang mahir dalam seni dramatisasi pada tahun 1972, dan dari Ki Sudarman Gondodarsono yang ahli sabet (seni menggerakkan wayang) pada tahun 1974. Pada tahun 1982, berkat gemblengan dari dua dalang senior itu dan sang ayah, Ki Manteb berhasil menjuarai Pakeliran Padat se-Surakarta. Seorang promotor bernama Soedharko Prawiroyudo menawarkan Ki Manteb untuk tampil dalam pergelaran rutin Banjaran Bima di Jakarta. Pergelaran tersebut diselenggarakan setiap bulan sebanyak 12 episode sejak kelahiran sampai kematian Bima, tokoh Pandawa. Pergelaran itulah yang kemudian membuat nama Ki Manteb sebagai seniman tingkat nasional mulai diperhitungkan publik.

Julukan dalang setan diberikan pertama kali pada tahun 1987 oleh mantan menteri penerangan Boedihardjo, seusai menyaksikan Ki Manteb mendalang. Julukan itu sebagai bentuk kekaguman Boedihardjo terhadap sabetan (cara menggerakkan wayang kulit) yang dimiliki Ki Manteb. Ki Manteb bisa memainkan beberapa wayang sekaligus, dengan gerakan secara cepat dan berputar-putar dalam lakon peperangan yang luar biasa mencengangkan. Bagi penikmat wayang, gerakan-gerakan tersebut dianggap luar biasa dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang dalang.

Dalang Berprestasi
Khusyuk meski telah lewat tengah malam
Banyak prestasi yang telah diraih Ki Manteb, ia sering mendalang di luar negeri seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, Jepang, Suriname, Belanda, Perancis, Belgia, Hongaria dan Austria. Pada tahun 1995, ia mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto berupa Satya Lencana Kebudayaan. 

Kemudian pada tahun 2004, Ki Manteb memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena kegemilangannya mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat pada acara Ultah RRI Semarang. Tidak hanya di dalam negeri, Ki manteb juga menerima penghargaan di luar negeri, pada 19 Mei 2010, Ki Manteb menerima penghargaan budaya dari Nikkei Asia Prize, sebuah penghargaan dari penerbitan koran terbesar di Tokyo, Nihon Keiza Shimbun (Nikkei). Nikkei melihat dedikasi Ki Manteb yang sangat besar dalam melestarikan dan menekuni wayang kulit. Ki Manteb juga mampu menyebarkan dan menyajikan pertunjukan wayang yang memukau masyarakat tidak hanya di Indonesia namun juga di berbagai belahan dunia.

Ki Manteb Sudharsono bersama Senawangi, dan Pepadi sangat berperan dalam pengakuan wayang sebagai warisan budaya dunia. Pada 7 November 2003 Ki Manteb mendapat kehormatan untuk menampilkan pergelaran wayang kulit di Markas UNESCO di Paris hanya dalam waktu tiga menit hingga wayang mendapat penghargaan dari UNESCO sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengajuan wayang sebagai warisan budaya dunia menurut Ki Manteb mula-mula berawal pada 2001 Unesco hendak memberikan penghargaan master piece untuk berbagai produk kebudayaan dari beberapa Negara, saat itu Indonesia belum berniat maju. 

Setelah penghargaan pertama diberikan kepada kelompok teater dari Jepang, mata kita baru terbuka. Kebetulan Unesco mendesak, sehingga pemerintah kemudian berpikir kira-kira produk budaya apa yang bisa diajukan untuk 2003. Penilaian yang dilakukan Unesco mencakup banyak sisi antara lain dari sisi estetika atau keindahan. Ada juga unsur orisinalitas. Itu berarti produk budaya yang dimaksud harus benar-benar ada di Indonesia saja, tidak duplikasi dengan budaya lain. Selain itu dinilai juga kandungan-kandungan lain, dan wayang dianggap memiliki semua sisi penilaian tersebut.

Pada saat itu ada 128 negara yang mengikuti dan yang berhasil masuk penilaian tahap kedua hanya 68 negara. Lalu dipilih lagi dan hanya 24 negara yang berhak mendapatkan penghargaan. Ternyata di antara 24 negara itu Indonesia lewat wayang purwa yang memenangi penghargaan Master Piece of The Oral and Intangible of Humanity tersebut. Salah satu unsur membuat wayang menang adalah kekentalan unsur filosofinya. Produk budaya dari negara lain, tidak banyak yang mengandung unsur filsafat. Misalnya saat itu tim penilai menanyakan kenapa ada adegan Dasamuka yang sudah terkena panah, sudah ditimpa gunung, kok tidak mati? Ki Manteb menjawab bahwa itu perlambang nafsu manusia. Dasamuka itu nafsu, dan nafsu tidak akan hilang jika manusia masih menghamba. Nafsu akan mati kalau manusia mati atau dunia kiamat.

Demikianlah perjalanan karier Ki Manteb Sudharsono dan berbagai penghargaan yang diraihnya untuk mengharumkan nama Indonesia di dalam dan di luar negeri. Maka kita patut bangga terhadap putra bangsa yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi, terutama bagi kaum muda.

Sumber: diolah dari berbagai sumber
fundaysmile.blogspot.com/
Suara Merdeka edisi 02 Mei 2004 dari wayangonline.com










Tidak ada komentar:

Posting Komentar