Social Icons

Pages

Selasa, 22 Mei 2012

Masjid Demak dan Asal Usulnya

Lukisan Masjid Agung Demak tahun 1801

Secara geografis Masjid Agung Demak berada di Desa Kauman, Kecamatan Demak kota, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Secara astronomis Kabupaten Demak sendiri terletak antara 110°2758" - 110°4847" BT dan 6°4326" - 7°0943" LS. Kompleks Masjid Agung Demak berdiri di lahan seluas 1,5 ha yang dipisahkan oleh pagar keliling dari tembok. Di depan masjid berhadapan Alun-alun kota Demak dipisahkan oleh Jalan Sultan Patah atau Jalan Semarang-Demak.

Masjid Agung Demak merupakan masjid pertama yang berdiri di tanah Jawa. Kompleks Masjid Agung Demak berdiri di lahan seluas 1,5 hektar yang dipisahkan oleh pagar keliling dari tembok. Pertama kali dibangun pada masa awal masuknya islam di pulau Jawa oleh Wali sanga di masa awal kesultanan Demak dengan Rajanya Raden Patah. Berdasarkan candra sengkala yang tertulis di prasasti bergambar bulus dan bertuliskan Sarira Sunyi Kiblating Gustimenjelaskan bahwa Masjid Agung Demak didirikan pada tahun 1401 Saka atau bertepatan dengan 1479 Masehi. 

Versi lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun tahun 1466 dan dinamakan Masjid Pesantren Glagahwangi dibawah asuhan Sunan Ampel. Lalu pada tahun 1477, masjid ini direhabilitasi dan diperluas menjadi Masjid Kadipaten Glagahwangi. Kemudian di tahun 1479, masjid ini kembali dipugar dan direnovasi menjadi masjid Kesultanan Bintoro Demak. Entah kapan masjid ini kemudian berganti nama menjadi Masjid Agung Demak yang namanya melekat hingga kini. (RR)
Masjid Agung Demak tampak depan, sekarang

Masjid Agung Demak telah banyak mengalami banyak perubahan. Masjid agung Demak merupakan bangunan arsitektural momentum peralihan masa pengaruh Hindu Budha berganti dengan masa pengaruh Islam. Hal itu terjadi seiring berkembangnya islam di Tanah Jawa, terutama daerah pesisir, dan runtuhnya kerajaan Hindu dan Budha.

Pola arsitektur bangunan Masjid Agung Demak tidak mengadopsi secara utuh pola arsitektur Timur Tengah tapi justru mengakulturasikan arsitektur lokal yakni Hindu-Budha di Jawa. Di beberapa bagian masjid juga dapat ditemukan piring-piring Cina. Oleh karena itu, Masjid Agung Demak dapat dikatakan sebagai mahakarya pada jamannya karena merupakan wujud jamak dari beberapa kebudayaan yang diakulturasikan.

Saat ini kompleks Masjid Agung Demak terdiri dari beberapa bagian bangunan yaitu bangunan utama masjid, menara, makam, paseban, tempat wudhu, kolam, dan museum.Luas  keseluruhan bangunan utama Masjid Agung Demak adalah 31 x 31 meter persegi. Di  sisi bangunan utama, terdapat serambi masjid berukuran 31 x 15 m  dengan panjang keliling 35 x 2,35 m,bedug dengan ukuran 3,5 x 2,5 m, dan tatak rambat dengan ukuran 25 x 3  m. 

Bangunan utama masjid ditopang  dengan 128 soko, yang empat di antaranya merupakan soko guru sebagai penyangga  utamanya. Tiang penyangga bangunan masjid berjumlah 50 buah, tiang penyangga serambi berjumlah 28 buah, dan tiang kelilingnya berjumlah 16 buah.
Dari empat soko utama masing-masing dibuat oleh empat dari Sembilan wali songo. Soko sebelah timur laut dibuat oleh Sunan Kalijaga, soko sebelah barat laut oleh Sunan Bonang, sebelah tenggara oleh Sunan Ampel, sedangkan barat daya oleh Sunan Bonang. Dari keempat soko tersebut salah satunya memiliki keunikan tersendiri yaitu soko yang di buat oleh sunan Kalijaga.Soko tersebut dinamakan soko tatal.

Ketika pertama kali didirikan bangunan Masjid Agung Demak tidak memiliki menara. Menara Masjid Agung Demak baru dibangun pada tahun 1934, yakni berupa bangunan kerangka besi yang mendukung bangunan batu bagian atas yang ditudungi oleh kubah kecil berbentuk bawang. Letak menara di pojok kiri halaman depan masjid.

Masjid Agung Demak merupakan jenis masjid makam. Di dalam kompleks Masjid Agung Demak terdapat beberapa makam tokoh penting dari kesultanan Demak. Diantaranya adalah makam Sultan Demak I yaitu Raden Patah, kemudian penerusnya, Sultan Demak II yaitu Raden Pati Unus, serta Sultan Demak terakhir Raden Trenggana. Selain makam ketiga pemimpin Kesultanan Demak tersebut, juga terdapat makam para abdi dalem Kesultanan Demak.

Sedangkan bangunan yang dikhususkan bagi wanita untuk salat berjama'ah dinamakan Pawestren yang berasal dari kata Pa-estri-an, atau berarti tempat perempuan. Dibuat menggunakan konstruksi kayu jati dengan bentuk atap limas dari sirap kayu jati. Bangunan ini ditopang delapan tiang penyangga. Empat di antaranya berhias ukiran motif Majapahit, dibuat zaman KRMA Arya Purbaningrat sekitar tahun 1866 M.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar